“Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan nama Tuhanmulah yang Mahamulia.”
(Al-‘Alaq: 1-3)
Teori tentang penciptaan manusia sudah diperbincangkan
sejak berabad-abad yang lalu. Namun, tentang bagaimana tahapan-tahapan yang
terjadi dalam proses tersebut, tidak bisa diilustrasikan sampai abad ke 15.
Setelah mikroskop ditemukan oleh Leeuwenhook, gambaran tentang pembentukan
janin dipelajari dari anak ayam. Tahapan tentang perkembangan janin manusia
sendiri baru bisa dijelaskan setelah abad ke 20 oleh sebuah sistem yang
disampaikan oleh Streeter dan disempurnakan oleh O’Rahilly.
Tahukah kita bahwa sebenarnya ilmu
penciptaan manusia sudah dijelaskan dari saat Al-Qur’an pertama kali diturunkan
sekitar 1400 tahun yang lalu? Saat ini, penciptaan manusia dapat kita pelajari
dari sebuah ilmu yang bernama embriologi. Sel manusia pertama kali tercipta
saat sel sperma bertemu dengan sel ovum. Sel sperma dimiliki oleh laki-laki dan
terbentuk dengan proses yang bernama spermatogonesis, sedangkan sel ovum
dimiliki oleh wanita dan terbentuk dengan proses yang disebut oogenesis. Yang
menjadi pembeda antara sel sperma dan sel ovum adalah waktu pembentukan dan
jumlahnya. Sel sperma, yang dihasilkan oleh testis, baru dibentuk ketika
laki-laki sudah memasuki masa pubertas dan membutuhkan siklus selama 64 hari
untuk dihasilkan dari sel spermatogonia. Sel spermatogonia adalah bakal dari
sel sperma. Spermatogonia sendiri sebenarnya sudah dibentuk pada saat masa
janin, disimpan dalam tubulus seminiferus, dan jumlahnya akan semakin meningkat
saat memasuki masa pubertas. Sama seperti spermatogonia, oogonia, yang menjadi
bahan dasar sel ovum, juga dibentuk oleh ovarium dari saat sebelum seorang bayi
lahir dan disimpan dalam bentuk sel oosit primer. Namun, yang menjadi pembeda
antara ovum dengan sperma adalah tidak ada lagi sel oosit primer yang dibentuk
saat seorang bayi perempuan telah lahir. Sel oosit primer, yang nantinya akan
diubah menjadi ovum, hanya terdapat sekitar 2 juta sel saat seorang bayi baru
lahir dan jumlahnya menyusut menjadi 40.000 saat seorang wanita memasuki masa
remaja. Dari sekitar 40.000 sel, hanya 400 yang nantinya akan dikeluarkan
menjadi ovum. Maka dari itu, wanita memiliki masa menopause, yaitu masa berhentinya
siklus menstruasi yang terjadi karena oosit tidak lagi berubah menjadi ovum.
Berbeda dengan sel oosit, sel spermatosit tetap dihasilkan bahkan sampai
seorang laki-laki berusia tua karena sel spermatosit, sel yang nantinya diubah
menjadi sperma, tetap dihasilkan terus menerus. Jumlah sel sperma yang
dikeluarkan per harinya sekitar 100 juta.
Sel
sperma dan sel ovum yang sudah matang tersebut lah yang jika bertemu akan
membentuk sebuah zigot. Pada perjalanannya, zigot tersebut akan membelah
beberapa kali, menjadi bentuk yang padat, hingga akhirnya terbentuk sebuah
rongga yang bernama rongga blastokis. Pada saat itulah zigot disebut dengan blastokis
dan menempel hingga akhirnya tertanam di endometrium (dinding rahim). Proses
tertanamnya blastokis sampai nantinya membentuk sistem sirkulasi dengan sekitar
disebut dengan proses implantasi dan berlangsung selama akhir dari minggu
pertama hingga pertengahan minggu kedua. Endometrium merupakan tempat yang
sangat sesuai untuk implantasi blastokis untuk nantinya tumbuh menjadi embrio.
Embriologi dalam
Al-Qur’an
Al-‘Alaq, yang menjadi salah satu surat dalam
Al-Quran, berarti segumpal darah. Dalam surat Al-Alaq ayat 2 diyatakan bahwa
manusia diciptakan dari segumpal darah. Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab
adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat.” Kata ini secara harfiah
digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap
darah. Kata tersebut sesuai untuk menggambarkan zigot yang melekat pada dinding
rahim ibu dengan kokohnya. Zigot tersebut akan membentuk sebuah sirkulasi darah
untuk menghubungkan dirinya dengan tubuh ibu. Sistem sirkulasi tersebut yang
berguna untuk menyampaikan nutrisi dari tubuh ibu ke calon anaknya nanti.
Dalam surat Al Mu’minun juga dijelaskan tentang
penciptaan manusia yang lebih detail dibandingkan dalam surat Al-‘Alaq. Dalam
surat Al-Mu’minun ayat 14 tertulis sebagai berikut: “Kemudian air mani itu Kami
jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya
makhluk yang (berbentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.”
Dalam surat tersebut tertulis kata “Alaqah” yang
menunjuk pada lintah. Lintah menghisap darah ketika menempel dengan kulit
manusia. Bentuk embrio manusia yang berusia 7–24 hari saat melekat pada
endometrium menyerupai bentuk lintah saat menempel pada kulit manusia. Kata
“Mudghah” yang muncul berikutnya menunjuk pada gumpalan yang kenyal. Pada akhir minggu keempat, embrio manusia
terlihat seperti gumpalan daging yang kenyal.
Pada keterangan berikutnya di
Al-Quran, dinyatakan bahwa segumpal daging itu dijadikan tulang belulang dan
kemudian tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Hal ini mengindikasikan
bahwa setelah tahapan “daging” itu terlewati, maka masuklah pada tahap
pembentukan tulang dan otot. Tulang dan otot sama-sama berasal dari mesoderm,
salah satu lapisan yang menjadi awal pembentukan jaringan dan organ. Tulang
pertama kali terbentuk dalam bentuk kartilago pada minggu ke lima. Pembentukan tulang tidak serentak
melainkan bertahap. Sedangkan otot terbentuk di sekitar tulang-tulang yang
sudah terbentuk lebih dulu. Kemudian pada surat tersebut dinyatakan “Kami
menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain.” Hal ini menunjukkan bahwa
pembentukan tulang dan otot tadi membuat embrio terlihat sudah seperti
“manusia”. Proses ini terjadi pada akhir minggu ke delapan. Pada tahap ini,
embrio sudah memiliki bentuk khusus dan mulai muncul organ-organ internal dan
eksternal. Setelah minggu ke delapan inilah embrio disebut dengan fetus atau
janin.
Memasuki
minggu ke 9, ukuran janin semakin besar dan semakin mengisi rongga rahim. Janin
tersebut terlindung dalam 3 lapisan seperti yang tertulis dalam surat Az-Zumar
ayat 6. Dalam surat tersebut tertulis ”Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu
kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.” Tiga kegelapan yang dimaksud
dalam Al-Qur’an tersebut menggambarkan dinding abdomen (perut), dinding rahim,
dan selaput amnion korion yang melindungi bayi. Dinding abdomen merupakan
dinding terluar dari perut ibu dan di situ terdapat banyak bantalan lemak.
Dinding rahim menutupi rongga rahim, rongga dimana janin semakin bertambah
besar. Sedangkan Selaput amnion dan korion adalah selaput terdalam yang
mengelilingi janin yang berisi cairan ketuban. Selain memiliki efek
perlindungan terhadap janin sebagai bantalan, selaput amnion dan cairannya juga
membantu janin untuk bergerak lebih bebas dan membantu perkembangan organ dalam
janin.
Al-Qur’an
diturunkan kurang lebih 1400 tahun yang lalu, namun di dalamnya sudah
digambarkan tentang tahapan penciptaan manusia dengan begitu detailnya, yang
baru bisa dijelaskan berabad-abad kemudian. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah
yang kamu dustakan?






Bagus sekali uraiannya. Terimakasih dr Zulmi.
ReplyDelete