Slogan
“Empat Sehat Lima Sempurna” sudah pasti sangat akrab di telinga masyarakat
Indonesia. Meskipun saat ini slogan tersebut telah berganti menjadi “Gizi
Seimbang”, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” menandakan awal perkembangan ilmu
gizi di Indonesia. Slogan tersebut dicetuskan oleh (alm) Prof. Dr. Poorwo
Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia. Beliau diakui sebagai Bapak Gizi Indonesia
oleh PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) pada tahun 1969. Mungkin banyak
yang tidak tahu bahwa Prof. Dr. Poorwo Soedomo adalah Bapak Gizi Indonesia.
Beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan, merintis, dan mengembangkan
pengetahuan tentang gizi dan ketenagaan gizi di Indonesia.
Lahir di
Malang pada tanggal 20 Februari 1904, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo menyelesaikan
pendidikannya di Sekolah Kedokteran STOVIA 23 tahun kemudian dan mendapat
ijazah dokter di zaman Jepang dari Ida Gaigako. Selama pendudukan Jepang,
beliau tinggal di Banten, Jakarta Barat. Ia bekerja sebagai kepala pelayanan
medis hingga tahun 1948. Kemudian beliau dikeluarkan pada masa-masa kemerdekaan
Indonesia dan pergi sebagai dokter kapal “Polodarus”. Beliau berlayar ke
Belanda selama 6 bulan, kemudian menuju London pada tahun 1949. Di London lah
ketertarikan Prof. Dr. Poorwo Soedarmo terhadap bidang nutrisi mulai muncul. Di
London School of Hygiene and Tropical
Medicine, beliau melakukan studi tentang malaria dan peran DDT untuk
mengontrol malaria bersama Prof. McDonald. Dan pada saat itu pula beliau
menunjukan ketertarikannya dalam bidang nutrisi bersama Profesor Platt. Pada
tahun 1950, beliau memperdalam ilmu gizinya di Institute of Nutrtition, Manila.
Prof. Dr. Poorwo Soedarmo
Setelah
kembali ke Indonesia, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo mendirikan Akademi Ahli Diit
dan Nutrisionis, yang kemudian menjadi Akademi Gizi, dengan bantuan ahli gizi
Belanda. Beliau kemudian diangkat oleh menteri kesehatan saat itu, almarhum
dokter J. Leimena untuk menjadi Direktur Lembaga Makanan Rakyat (LMR), yang
saat ini menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi (Puslitbang Gizi), dan
menjabat dari tahun 1950–1958. Pada tahun 1950-an inilah slogan empat sehat
lima sempurna digagaskan oleh beliau. Melalui slogan ini, Prof. Dr. Poorwo
Soedarmo, dengan Lembaga Makanan Rakyat-nya, mempopulerkan gizi secara praktis
untuk membuat masyarakat dan pemerintah Indonesia sadar gizi.
Seolah tak
ingin berhenti belajar, pada tahun 1954–1955, beliau memperdalam ilmunya di School of Public Health and Nutrition,
Harvard University. Prof. Dr. Poorwo Soedarmo juga menjadi orang pertama
yang memperkenalkan ilmu Home Economics,
atau yang saat ini dikenal dengan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, di Indonesia
pada tahun 1957. Pada tahun 1958, beliau menjadi guru besar pertama Ilmu Gizi
di FKUI dan membuka bagian ilmu gizi pertama di FKUI. Pada tahun 1960, ia
mendalami bidang gizi di Institute
of Nutrition Sciences, Columbia University, New York. Dan karena
kontribusinya yang sangat besar dalam memperjuangkan ilmu gizi, beliau
ditetapkan oleh PERSAGI dalam Kongres I PERSAGI tahun 1967 sebagai Bapak Gizi
Indonesia. Prof. Dr. Poorwo Soedarmo juga mendapatkan gelar Doctor Honoris
Causa dalam ilmu kedokteran FKUI pada tahun 1975. Setelahnya, banyak penghargaan
yang menghampiri ayah dari delapan anak ini, yang salah satunya adalah Prof.
Dr. dr. Soemarmo Soenarjo Poorwo Soedarmo,SpA. Penghargaan-penghargaan tersebut
antara lain penghargaan dari pemerintah tahun 1992, yaitu Bintang Mahaputra
Utama atas jasanya mengembangkan gizi, dan piagam penghargaan Ksatria Bakti
Husada Kelas I pada tahun 1993.
Kiprahnya
tidak berakhir di situ. Pada April 1999, Prof. Dr. Poorwo sempat memberikan
seminar tentang hidup sehat dan aktif di usia lanjut. Saat itu, beliau yang
sudah berusia 95 tahun terlihat masih sehat, penuh semangat, dan berjalan
tegak. Beliau memaparkan rahasia hidup sehatnya, yaitu rajin berolahraga sesuai
kemampuan, aktif berkegiatan, serta makan secara sehat dan teratur. Beliau
menganjurkan masyarakat untuk menikmati semua makanan, namun dikonsumsi secara
minimal. Beliau juga menyarankan untuk banyak mengkonsumsi sayuran dan buah,
sedikit karbohidrat, dan hindari lemak.
Pada
tanggal 13 Maret 2003 hari Kamis, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo menghembuskan napas
terakhirnya dalam usia 99 tahun pukul 17.45 dan dikebumikan pada hari Jumat
pukul 13.30 di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dengan inspektur upacara
Menteri Kesehatan saat itu, Achmad Sujudi.


No comments:
Post a Comment