Tell me, I will forget
Show me, I may remember
Involve me, and I will understand
Begitulah bunyi pepatah Cina
yang bisa menggambarkan tentang bagaimana proses belajar dan mengajar berjalan
seharusnya. Saat ini sudah bukan lagi zamannya pendidikan satu arah, dimana
seorang dosen atau guru berdiri di tengah kelas memberikan materi di depan puluhan, bahkan ratusan murid.
Sesuai pepatah Cina tersebut, murid akan melupakan apa yang hanya ditangkap oleh indera pendengaran
mereka dan mungkin akan mengingat
jika mereka melihat apa yang diajarkan pada mereka. Namun, pada saat seorang
guru melibatkan muridnya untuk berpikir dan menyelesaikan masalah bersama, hal
itu akan melibatkan semua indera mereka. Maka pada saat itulah murid akan
memahami apa yang sebenarnya mereka pelajari. Bukan hanya mengingat dan
menghapalnya, tapi memahaminya.
Saat
ini paradigma tentang pendidikan mulai bergeser dari pembelajaran yang berpusat
pada pengajar (teacher centered) menjadi
pembelajaran yang berpusat pada murid (student-centered
learning). Perubahan tersebut terjadi karena didorong oleh hasil analisis
mutakhir yang menunjukkan bahwa sistem yang dianut tidak lagi memberi hasil
atau keuntungan yang memuaskan. Sistem
pembelajaran student-centered
menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menjanjikan model
belajar yang dapat menggali motivasi intrinsik untuk membangun masyarakat yang
suka dan selalu belajar. Student-centered
learning adalah suatu langkah untuk mengembalikan cara belajar ke proses
belajar alami dari setiap manusia karena setiap manusia memiliki keunikan
sendiri dalam belajar. Dengan menerapkan konsep ini, sebagian beban untuk
mempersiapkan serta mengkomunikasikan materi berpindah ke peserta didik, yang
mana mereka juga harus berperan secara aktif
(active-learning). Salah satu
metode belajar yang alamiah dan mengacu pada keunikan individu yang perlu
dikembangkan adalah Problem Based
Learning (PBL).
Problem-Based Learning
(PBL) atau Pembelajaran Berbasis
Masalah, pertama
kali dikembangkan oleh Howard Barrows di McMaster
University’s Faculty of Health Sciences, Canada
pada tahun 1969. PBL merupakan sebuah metode pembelajaran yang
menggunakan kasus atau masalah sebagai pemicu untuk
mendorong proses belajar.
Prinsip
PBL adalah menggunakan masalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman.
PBL mengharuskan mahasiswa untuk sadar terhadap informasi apa yang mereka punya
tentang masalah yang diberikan, informasi apa yang mereka butuhkan untuk
menyelesaikan permasalahan, dan strategi apa yang mereka gunakan untuk
menyelesaikan masalah.
Metode
PBL mengedepankan pembelajaran grup/kerja grup (groupwork). Berdasarkan sebuah penelitian tentang persepsi
mahasiswa terhadap pembelajaran melalui grup kecil, ada 4 karakter yang dibutuhkan
dalam mewujudkan grup yang efektif: 1. Karakteristik tutor; 2. Atmosfir grup;
3. Integrasi dan relevansi klinis (atau dengan kasus-kasus dalam kehidupan
nyata); 4. Materi yang dapat mendorong untuk berpikir bebas dan kritis serta
mendorong untuk menyelesaikan masalah. Keempat elemen itulah yang akan
menentukan keberhasilan implementasi PBL pada sebuah universitas.
Meskipun
PBL pertama kali diadaptasi oleh sekolah kedokteran, saat ini penggunaan PBL
telah meluas hingga ke bidang studi lain, seperti matematika, hukum, ekonomi,
bisnis, teknik, dan sebagainya. Pada kalangan pendidikan tinggi kedokteran
Indonesia sendiri, penerapan PBL tersebut berbeda-beda, ada yang mengadopsinya
secara utuh, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali.
Pernah
dilakukan sebuah penelitian di salah satu universitas di Turki mengenai
kelebihan dan kekurangan penerapan PBL di departemen teknik tahun 2006-2007
lalu. Saat itu departemen teknik telah mengimplementasikan PBL selama 4-5
tahun. Peserta dari penelitian tersebut adalah tutor dan murid yang
diobservasi, diwawancara, dan diberikan kuesioner mengenai program PBL. Kelebihan PBL yang banyak diakui oleh murid
dan tutor adalah peningkatan kemampuan komunikasi mereka. Selain kemampuan
komunikasi, murid-murid di sana juga memperoleh kemampuan menyelesaikan
masalah, kemampuan belajar mandiri, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan
kolaborasi. Dengan penggunaan PBL, murid-murid di sana juga bisa mendapatkan
pandangan sebagai seorang insinyur dan mendapatkan percaya diri dalam tutorial.
Dalam
pelaksanaannya, PBL pun masih memiliki beberapa kelemahan. Masalah yang paling
dikeluhkan oleh murid-murid adalahberbedanya implementasi PBL dari setiap
tutor. Masing-masing tutor memiliki sikap dan perilaku yang berbeda terhadap
PBL sehingga menghasilkan dinamika grup yang berbeda antara masing-masing grup
diskusi. Masih ada tutor yang tidak efisien, memiliki sikap yang negatif
terhadap metode PBL, ataupun tidak menyiapkan sesi dengan baik. Kelemahan yang
dirasakan juga adalah belum adanya prosedur standar tentang evaluasi program
yang digunakan oleh tutor untuk menilai murid-murid dalam grupnya. Penerapan
PBL juga diakui membawa murid-murid pada keadaan stres yang lebih tinggi karena
kurikulum yang padat dan banyaknya ujian yang harus mereka tempuh.
Dengan
berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh metode ini, pernah
dilakukan penelitian mengenai kepuasan mahasiswa terhadap metode PBL di
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran tahun 2010 lalu. Sebanyak 74,16%
mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran merasa cukup puas
dengan penerapan PBL.
PBL
merupakan salah satu solusi untuk mengakomodasi pergeseran paradigma pendidikan
di Indonesia. Namun, PBL akan sulit diterapkan, kecuali ada pemahaman yang
baik, baik dari tutor maupun murid, tentang peran, kelebihan, dan proses
pembelajaran PBL itu sendiri.
ANDA SIBUK BEKERJA?, SEGERA GABUNG DI KELAS KARYAWAN UNIVERSITAS MERCU BUANA