Kenali Tubuh Anda

ANDA SIBUK BEKERJA?, SEGERA GABUNG DI KELAS KARYAWAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Sunday, 10 February 2013

Problem-Based Learning, sebagai Solusi Paradigma Baru Pendidikan di Indonesia


Tell me, I will forget
Show me, I may remember
Involve me, and I will understand

Begitulah bunyi pepatah Cina yang bisa menggambarkan tentang bagaimana proses belajar dan mengajar berjalan seharusnya. Saat ini sudah bukan lagi zamannya pendidikan satu arah, dimana seorang dosen atau guru berdiri di tengah kelas memberikan materi  di depan puluhan, bahkan ratusan murid. Sesuai pepatah Cina tersebut, murid akan melupakan apa yang hanya ditangkap oleh indera pendengaran mereka dan mungkin akan mengingat jika mereka melihat apa yang diajarkan pada mereka. Namun, pada saat seorang guru melibatkan muridnya untuk berpikir dan menyelesaikan masalah bersama, hal itu akan melibatkan semua indera mereka. Maka pada saat itulah murid akan memahami apa yang sebenarnya mereka pelajari. Bukan hanya mengingat dan menghapalnya, tapi memahaminya.
Saat ini paradigma tentang pendidikan mulai bergeser dari pembelajaran yang berpusat pada pengajar (teacher centered) menjadi pembelajaran yang berpusat pada murid (student-centered learning). Perubahan tersebut terjadi karena didorong oleh hasil analisis mutakhir yang menunjukkan bahwa sistem yang dianut tidak lagi memberi hasil atau  keuntungan yang memuaskan. Sistem pembelajaran student-centered menekankan pada minat, kebutuhan dan kemampuan individu, menjanjikan model belajar yang dapat menggali motivasi intrinsik untuk membangun masyarakat yang suka dan selalu belajar. Student-centered learning adalah suatu langkah untuk mengembalikan cara belajar ke proses belajar alami dari setiap manusia karena setiap manusia memiliki keunikan sendiri dalam belajar. Dengan menerapkan konsep ini, sebagian beban untuk mempersiapkan serta mengkomunikasikan materi berpindah ke peserta didik, yang mana mereka juga harus berperan secara aktif  (active-learning). Salah satu metode belajar yang alamiah dan mengacu pada keunikan individu yang perlu dikembangkan adalah Problem Based Learning (PBL).
Problem-Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah, pertama kali dikembangkan oleh Howard Barrows di McMaster University’s Faculty of Health Sciences, Canada pada tahun 1969. PBL merupakan sebuah metode pembelajaran yang menggunakan kasus atau masalah sebagai pemicu untuk mendorong proses belajar.
Prinsip PBL adalah menggunakan masalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman. PBL mengharuskan mahasiswa untuk sadar terhadap informasi apa yang mereka punya tentang masalah yang diberikan, informasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan permasalahan, dan strategi apa yang mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah.
Metode PBL mengedepankan pembelajaran grup/kerja grup (groupwork). Berdasarkan sebuah penelitian tentang persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran melalui grup kecil, ada 4 karakter yang dibutuhkan dalam mewujudkan grup yang efektif: 1. Karakteristik tutor; 2. Atmosfir grup; 3. Integrasi dan relevansi klinis (atau dengan kasus-kasus dalam kehidupan nyata); 4. Materi yang dapat mendorong untuk berpikir bebas dan kritis serta mendorong untuk menyelesaikan masalah. Keempat elemen itulah yang akan menentukan keberhasilan implementasi PBL pada sebuah universitas.
Meskipun PBL pertama kali diadaptasi oleh sekolah kedokteran, saat ini penggunaan PBL telah meluas hingga ke bidang studi lain, seperti matematika, hukum, ekonomi, bisnis, teknik, dan sebagainya. Pada kalangan pendidikan tinggi kedokteran Indonesia sendiri, penerapan PBL tersebut berbeda-beda, ada yang mengadopsinya secara utuh, sebagian, atau bahkan tidak sama sekali.
Pernah dilakukan sebuah penelitian di salah satu universitas di Turki mengenai kelebihan dan kekurangan penerapan PBL di departemen teknik tahun 2006-2007 lalu. Saat itu departemen teknik telah mengimplementasikan PBL selama 4-5 tahun. Peserta dari penelitian tersebut adalah tutor dan murid yang diobservasi, diwawancara, dan diberikan kuesioner mengenai program PBL.  Kelebihan PBL yang banyak diakui oleh murid dan tutor adalah peningkatan kemampuan komunikasi mereka. Selain kemampuan komunikasi, murid-murid di sana juga memperoleh kemampuan menyelesaikan masalah, kemampuan belajar mandiri, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan kolaborasi. Dengan penggunaan PBL, murid-murid di sana juga bisa mendapatkan pandangan sebagai seorang insinyur dan mendapatkan percaya diri dalam tutorial.
Dalam pelaksanaannya, PBL pun masih memiliki beberapa kelemahan. Masalah yang paling dikeluhkan oleh murid-murid adalahberbedanya implementasi PBL dari setiap tutor. Masing-masing tutor memiliki sikap dan perilaku yang berbeda terhadap PBL sehingga menghasilkan dinamika grup yang berbeda antara masing-masing grup diskusi. Masih ada tutor yang tidak efisien, memiliki sikap yang negatif terhadap metode PBL, ataupun tidak menyiapkan sesi dengan baik. Kelemahan yang dirasakan juga adalah belum adanya prosedur standar tentang evaluasi program yang digunakan oleh tutor untuk menilai murid-murid dalam grupnya. Penerapan PBL juga diakui membawa murid-murid pada keadaan stres yang lebih tinggi karena kurikulum yang padat dan banyaknya ujian yang harus mereka tempuh.
Dengan berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh metode ini, pernah dilakukan penelitian mengenai kepuasan mahasiswa terhadap metode PBL di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran tahun 2010 lalu. Sebanyak 74,16% mahasiswa di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran merasa cukup puas dengan penerapan PBL.
PBL merupakan salah satu solusi untuk mengakomodasi pergeseran paradigma pendidikan di Indonesia. Namun, PBL akan sulit diterapkan, kecuali ada pemahaman yang baik, baik dari tutor maupun murid, tentang peran, kelebihan, dan proses pembelajaran PBL itu sendiri. 
ANDA SIBUK BEKERJA?, SEGERA GABUNG DI KELAS KARYAWAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Bapak “Empat Sehat Lima Sempurna”


Slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” sudah pasti sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Meskipun saat ini slogan tersebut telah berganti menjadi “Gizi Seimbang”, slogan “Empat Sehat Lima Sempurna” menandakan awal perkembangan ilmu gizi di Indonesia. Slogan tersebut dicetuskan oleh (alm) Prof. Dr. Poorwo Soedarmo, Bapak Gizi Indonesia. Beliau diakui sebagai Bapak Gizi Indonesia oleh PERSAGI (Persatuan Ahli Gizi Indonesia) pada tahun 1969. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Prof. Dr. Poorwo Soedomo adalah Bapak Gizi Indonesia. Beliau adalah orang pertama yang memperkenalkan, merintis, dan mengembangkan pengetahuan tentang gizi dan ketenagaan gizi  di Indonesia. 
Lahir di Malang pada tanggal 20 Februari 1904, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Kedokteran STOVIA 23 tahun kemudian dan mendapat ijazah dokter di zaman Jepang dari Ida Gaigako. Selama pendudukan Jepang, beliau tinggal di Banten, Jakarta Barat. Ia bekerja sebagai kepala pelayanan medis hingga tahun 1948. Kemudian beliau dikeluarkan pada masa-masa kemerdekaan Indonesia dan pergi sebagai dokter kapal “Polodarus”. Beliau berlayar ke Belanda selama 6 bulan, kemudian menuju London pada tahun 1949. Di London lah ketertarikan Prof. Dr. Poorwo Soedarmo terhadap bidang nutrisi mulai muncul. Di London School of Hygiene and Tropical Medicine, beliau melakukan studi tentang malaria dan peran DDT untuk mengontrol malaria bersama Prof. McDonald. Dan pada saat itu pula beliau menunjukan ketertarikannya dalam bidang nutrisi bersama Profesor Platt. Pada tahun 1950, beliau memperdalam ilmu gizinya di Institute of Nutrtition, Manila. 


Prof. Dr. Poorwo Soedarmo

Setelah kembali ke Indonesia, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo mendirikan Akademi Ahli Diit dan Nutrisionis, yang kemudian menjadi Akademi Gizi, dengan bantuan ahli gizi Belanda. Beliau kemudian diangkat oleh menteri kesehatan saat itu, almarhum dokter J. Leimena untuk menjadi Direktur Lembaga Makanan Rakyat (LMR), yang saat ini menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi (Puslitbang Gizi), dan menjabat dari tahun 1950–1958. Pada tahun 1950-an inilah slogan empat sehat lima sempurna digagaskan oleh beliau. Melalui slogan ini, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo, dengan Lembaga Makanan Rakyat-nya, mempopulerkan gizi secara praktis untuk membuat masyarakat dan pemerintah Indonesia sadar gizi.
Seolah tak ingin berhenti belajar, pada tahun 1954–1955, beliau memperdalam ilmunya di School of Public Health and Nutrition, Harvard University. Prof. Dr. Poorwo Soedarmo juga menjadi orang pertama yang memperkenalkan ilmu Home Economics, atau yang saat ini dikenal dengan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, di Indonesia pada tahun 1957. Pada tahun 1958, beliau menjadi guru besar pertama Ilmu Gizi di FKUI dan membuka bagian ilmu gizi pertama di FKUI. Pada tahun 1960, ia mendalami bidang gizi di Institute of Nutrition Sciences, Columbia University, New York. Dan karena kontribusinya yang sangat besar dalam memperjuangkan ilmu gizi, beliau ditetapkan oleh PERSAGI dalam Kongres I PERSAGI tahun 1967 sebagai Bapak Gizi Indonesia. Prof. Dr. Poorwo Soedarmo juga mendapatkan gelar Doctor Honoris Causa dalam ilmu kedokteran FKUI pada tahun 1975. Setelahnya, banyak penghargaan yang menghampiri ayah dari delapan anak ini, yang salah satunya adalah Prof. Dr. dr. Soemarmo Soenarjo Poorwo Soedarmo,SpA. Penghargaan-penghargaan tersebut antara lain penghargaan dari pemerintah tahun 1992, yaitu Bintang Mahaputra Utama atas jasanya mengembangkan gizi, dan piagam penghargaan Ksatria Bakti Husada Kelas I pada tahun 1993.
Kiprahnya tidak berakhir di situ. Pada April 1999, Prof. Dr. Poorwo sempat memberikan seminar tentang hidup sehat dan aktif di usia lanjut. Saat itu, beliau yang sudah berusia 95 tahun terlihat masih sehat, penuh semangat, dan berjalan tegak. Beliau memaparkan rahasia hidup sehatnya, yaitu rajin berolahraga sesuai kemampuan, aktif berkegiatan, serta makan secara sehat dan teratur. Beliau menganjurkan masyarakat untuk menikmati semua makanan, namun dikonsumsi secara minimal. Beliau juga menyarankan untuk banyak mengkonsumsi sayuran dan buah, sedikit karbohidrat, dan hindari lemak.
Pada tanggal 13 Maret 2003 hari Kamis, Prof. Dr. Poorwo Soedarmo menghembuskan napas terakhirnya dalam usia 99 tahun pukul 17.45 dan dikebumikan pada hari Jumat pukul 13.30 di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, dengan inspektur upacara Menteri Kesehatan saat itu, Achmad Sujudi.

Thursday, 10 January 2013

Françoise Barré-Sinoussi, Penemu Virus HIV



Jika mendengar kata HIV, semua orang pasti akan langsung tertuju pada sebuah penyakit yang bernama AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Virus ini menyerang sistem pertahanan tubuh manusia sehingga menurunkan reaksi tubuh terhadap penyakit-penyakit. Oleh karena itu, orang yang sudah terinfeksi virus HIV biasanya akan mudah untuk terkena penyakit karena pertahanan tubuhnya sudah rusak.

Dialah Françoise Barré-Sinoussi,  seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis berusia 65 tahun, yang pada tahun 2008 lalu menerima anugerah nobel dalam bidang kedokteran atas penemuannya terhadap sebuah virus yang bernama HIV. Anak dari pasangan Roger Sinoussi dan Jeanine Fau, sudah memulai penelitiannya tentang virus ini dari tahun 1983. Penemuannya berawal dari ketertarikannya terhadap penellitian. Setelah kebingungannya terhadap masa depan apa yang akan ia jalani, antara dunia kedokteran atau biomedis, ia akhirnya memilih untuk memasuki Faculty of Sciences pada tahun 1966, University of Paris. Selain karena durasi pendidikan yang relatif lebih pendek, biaya pendidikan yang lebih murah juga menjadi pertimbangannya. Menjelang akhir pendidikannya, ia mencari laboratorium untuk mendapatkan pengalaman. Setelah beberapa bulan pencariannya tidak menelurkan hasil, akhirnya seorang teman mengenalkannya pada sebuah grup yang bekerja dalam laboratorium. Grup tersebut dipimpin oleh Jean-Claude Chermann di Institut Pasteur di Marne-la-Coquette. Saat itu Chermann sedang mempelajari hubungan antara retrovirus dengan kanker pada tikus. Barre-Sinoussi menghabiskan waktunya lebih banyak di laboratorium dan hanya menunjukkan kehadiran di kampus untuk melakukan ujian. Sesaat setelah masuk ke dalam grup Chermann, Jean-Claude menawarkannya sebuah proyek PhD. Proyeknya untuk menganalisis kegunaan sintesis molekul yang dapat menghambat reverse transcriptase untuk mengontrol leukemia yang disebabkan oleh Friend virus. Barre-Sinoussi menyelesaikan pendidikannya relatif cepat. Ia dianugerahi gelar PhD di tahun 1974 oleh Faculty of Sciences, University of Paris.


Françoise Barré-Sinoussi

Pada akhir 70-an dan awal 80-an, hanya sedikit grup laboratorium yang masih meneliti tentang hubungan antara retrovirus dan kanker. Pada tahun tersebut, lebih banyak orang yang tertarik untuk meneliti onkogen atau gen yang memiliki potensi untuk mengakibatkan kanker. Namun pada saat itu, Barre-Sinoussi tetap meneliti mengenai kontrol alamiah infeksi retroviral pada tubuh manusia. Pada tahun 1982, Luc Montaginer, seorang ilmuwan, dihubungi oleh seorang ahli virologi asal Prancis. Ahli virologi tersebut bekerja sama dengan Will Rozenbaum, seorang klinisi yang menyadari adanya epidemiologi penyakit baru yang menyerang orang-orang homoseksual. Luc kemudian mengajak Barre-Sinoussi untuk bekerja sama meneliti fenomena baru ini. Luc membutuhkan bantuan Barre-Sinoussi untuk menentukan apakah retrovirus yang sedang ditelitinya dengan timnya memiliki pengaruh pada penyakit yang baru-baru itu muncul. Setelah mendapatkan persetujuan dari ketua timnya, akhirnya mereka bekerja dengan tekun untuk menentukan apakah retrovirus ditemukan pada pasien dengan penyakit baru tersebut (yang kemudian dikenal dengan AIDS).
Pada bulan desember 1982, diadakanlah pertemuan antara klinisi, grup tempat Barre-Sinoussi bekerja, dan Willy Rozenbaum. Berdasarkan observasi klinis, penyakit ini menyerang sel imun, namun turunnya kadar limfosit CD4 (sel pertahanan tubuh) sangat menghambat isolasi virus dari sel-sel yang jarang pada pasien dengan AIDS. Setelah menunggu isolasi limfosit dari biopsi kelenjar getah bening pasien, sel-sel itu dites untuk aktivitas reverse trancriptase. Pada minggu pertama, tidak terlihat adanya aktivitas virus, namun pada minggu kedua, terjadi penurunan level dari enzim tersebut dan sel limfosit T mati pada kultur tersebut. Untuk menyelamatkan kultur, dengan harapan dapat mengawetkan virus, mereka menambahkan limfosit dari donor ke kultur. Dan ternyata sesuai harapan, virus yang masih terdapat pada kultur, mulai menginfeksi limfosit baru yang mereka tambahkan dan mereka dapat kembali mendeteksi aktivitas reverse transkriptase. Mereka menamakan virus yang baru diisolasi tersebut sebagai Lymphadenopaty Associated Virus (LAV), yang kemudian dinamakan Human Immunodeficiency Virus, HIV. Setelah itu mereka berpikir untuk memvisualisasikan virus tersebut dan dengan bantuan mikroskop dari Charles Dauguet, gambaran awal dari virus diterbitkan pada februari 1983.
Virus yang telah ditemukan kemudian diisolasi, diamplifikasi (diperbanyak), dan dikarakteristikan. Kemudian laporan pertama diterbitkan dalam Science pada bulan Mei 1983.  Pada bulan-bulan berikutnya, penelitian mengenai virus ini diperdalam, melalui kerja sama dengan ahli biologi molekular dari institute Pasteur, beserta klinisi-klinisi, akhirnya data-data yang terkumpul cukup menguatkan bahwa LAV atau HIV merupakan agen penyebab AIDS.
Tahun 1983 merupakan awal karir Barre-Sinoussi di institut Pasteur sampai akhirnya beliau ditunjuk untuk menjadi Kepala Unit Biologi Retrovirus pada tahun 1992, yang kemudian berubah nama menjadi Unit Regulasi Infeksi Retroviral pada tahun 2005.  Kunjungan pertamanya adalah ke Afrika pada tahun 1987, kemudian ke Vietnam tahun 1988 sebagai langkah awal kolaborasi dengan negara-negara di Asia. Kunjungan tersebut membuka matanya, betapa perbedaan kebudayaan dan keadaan yang mengerikan, menggerakannya untuk berkolaborasi dengan negara yang memiliki sumber daya terbatas. Kerjasama dengan Afrika dan Asia ke depannya menghasilkan pertukaran peneliti muda dari berbagai belahan dunia dengan peneliti dari Paris.
Pada tanggal 27 Juli 2012, The International AIDS Society (IAS) dalam International AIDS Conference (AIDS 2012) di Washington, D.C mengumumkan Françoise Barré-Sinoussi, PhD, ditunjuk sebagai presiden AIS yang baru selama 2 tahun.
Dalam kuliah nobelnya tahun 2008 yang berjudul “HIV: a discovery opening the road to novel scientific achievements and global health improvement”, ia menyampaikan bahwa sekitar 33 juta manusia hidup dengan HIV pada akhir tahun 2007, yang mana terdapat 2,7 juta kasus baru dan 2 juta manusia meninggal karena AIDS pada tahun sebelumnya. Untuk setiap 1 orang yang memulai pengobatannya dengan ARV (Anti Retroviral), terdapat 2–3 kasus infeksi HIV baru. Hanya 30% dari pasien yang seharusnya mendapatkan pengobatan, yang benar-benar menerimanya. Pengobatan dengan ARV memang besar dampaknya dalam peningkatan angka pertahanan, namun hal tersebut juga dipengaruhi dengan komitmen seumur hidup, yang berhubungan dengan ekonomi, dan komplikasi dari penyakit-penyakitnya. Maka dari itu, penelitian terhadap HIV masih harus berlanjut untuk menemukan terapi yang tempat pada penderita HIV. Prof Francoise Barre-Sinoussi yakin bahwa penyembuhan dari penyakit AIDS bukan tidak mungkin.
Untuk mewujudkan cita-cita sebuah dunia tanpa AIDS dan kesehatan global yang lebih baik, maka diperlukan kerjasama internasional dan multidisiplin, melibatkan penelitian dasar, penelitian klinis, kesehatan masyarakat, ilmu sosial, sektor swasta, dan sebagainya.

Putri Zulmiyusrini
Dokter Internship
(tulisan ini dimuat dalam rubrik Eureka! koran Pikiran Rakyat tanggal 3 Januari 2013)