Kenali Tubuh Anda

ANDA SIBUK BEKERJA?, SEGERA GABUNG DI KELAS KARYAWAN UNIVERSITAS MERCU BUANA

Sunday, 23 November 2014

PK-22 LPDP: My Point of No Return


Pra PK: Berjibaku membagi waktu
Khawatir. Kata itu yang bisa mendeskripsikan perasaan saya pada H-1 sebelum keberangkatan PK atau yang pada awalnya saya kira artinya Program Kepemimpinan. Saya, yang baru resmi masuk ke dalam PK LPDP angkatan 22 pada tanggal 31 Oktober 2014, menjalani kurang lebih 2 minggu waktu saya sebelum PK dimulai seperti Roller Coaster. Tugas-tugas pra PK yang subhanallah banyaknya, kerjaan kantor yang juga harus diberesin sebelum berangkat PK, dan kerjaan-kerjaan lain yang juga sudah mepet deadline. Saya berpikir kenapa waktu 24 jam sehari dan 7 hari seminggu seperti tidak cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas itu. Bahkan, sempat terbesit pikiran bahwa saya tidak akan sanggup untuk menjalani semua ini. Namun, orang-orang di sekitar saya mengingatkan bahwa perjuangan ini bahkan belum dimulai. Saya tidak boleh menyerah.
Kekhawatiran lain datang dari pikiran saya mengenai teman-teman PK angkatan 22 yang saya temui. Selama ini berbincang melalui LINE atau WhatsApp saja seperti belum cukup. Bagaimana sifat asli mereka,bagaimana kalau saya tidak bisa berbaur dengan mereka, karena bagaimanapun juga mereka adalah orang-orang hebat dari berbagai bidang ilmu. Hari demi hari berlalu. Grup angkatan di LINE semakin sepi, namun grup kelompok di WhatsApp semakin ramai. Kami me-review lagi mengenai perlengkapan yang perlu dibawa, tugas-tugas yang telah dan akan dikerjakan selama PK, dan yang pasti saling menguatkan satu sama lain untuk menjalani 7 hari di PK. Beberapa orang ada yang sudah standby di Wisma Hijau H-1 pelaksanaan PK, beberapa orang sisanya akan datang di Minggu pagi. Saya berharap semuanya akan berjalan dengan lancar dan selalu mengingatkan diri saya bahwa saya harus menikmati every single process.

Hari pertama: kesan pertama begitu menggoda
Tibalah hari pertama. Dengan segala ke-hectic-an dan beratnya barang bawaan, saya akhirnya bisa bertatap muka langsung dengan nama-nama yang tadinya hanya bisa saya lihat di kontak LINE atau WhatsApp. Orang yang pertama menyapa saya adalah tidak lain tidak bukan ketua kelompok pra PK, Clarissa Azharia. Sebelumnya kami juga sudah ngobrol banyak di WhatsApp, jadi sudah tidak ada rasa canggung di antara kita. Setelah itu, saya bertemu dengan teman-teman PK 22 lainnya. Hal yang membuat saya excited adalah saya menebak-nebak siapa nama orang-orang ini, karena kebetulan saya mudah menghafalkan wajah. Perkenalan kami pun dilanjutkan di dalam aula. Pertemuan pertama diisi dengan penjelasan mengenai PK yang disampaikan oleh bapak Mohammad Kamiludin. Pada saat itulah saya baru tahu bahwa PK saat ini diartikan sebagai Persiapan Keberangkatan yang menjadi program pembekalan dan evaluasi awal para penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia yang diselenggarakan oleh LPDP. Ada 3 tujuan PK yang TIDAK BOLEH dilupakan oleh para peserta PK: menjadi duta LPDP, memperkuat bonding angkatan, dan menuai inspirasi. Penjelasan mengenai PK pun diselingi dengan berbagai ice breaking seru yang diberikan oleh kakak-kakak panitia. Games yang paling diingat adalah games TRACK 1, TRACK 2 , dan sebagainya yang dibawakan dengan ciamik oleh kak Jiwo. Pada saat itu kami juga diperkenalkan dengan pendamping kelompok dan kelompok kami dengan beruntungnya mendapatkan kak Permadi sebagai pendamping kelompok. Di sela-sela materi, kami menghabiskan waktu dengan mengulang-ngulang mars dan ikrar angkatan yang harus kami hapal. Dengan bantuan mas Yutmen dan bang Amos, kami bernyanyi dan mengucapkan ikrar dengan penuh semangat.
Sesi materi pertama yang kami terima pada hari pertama berjudul Paradigma Sumber Daya Manusia Kompetitif dan Berwawasan Global yang disampaikan oleh Tantia Dian Permata Indah. Tantia sendiri merupakan adik kelas saya masa SMA. Mahasiswa berprestasi nasional tahun 2010 ini di usianya yang masih sangat muda sudah bisa memberikan inspirasi. Ada 3 hal yang ia sampaikan mengenai cara menjadi manusia yang unggul, yaitu dengan menjadi otentik, kompetitif, dan adaptif. Quotes yang akan selalu saya ingat dari Tantia adalah “appreciating individiuality while keeping humility”.
Sesi materi kedua di hari pertama bertema Cendekiawan Muda Indonesia: Learning Today, Leading Tomorrow. Materi ini disampaikan bapak Yudi Latief, MA, Ph.D yang merupakan salah satu penulis Indonesia yang paling produktif. Ia adalah satu-satunya penulis Indonesia yang bukunya dimasukkan ke dalam perpustakaan di Australia. Pembicaraannya dibuka dengan pertanyaan “apa bedanya seorang ilmuwan dan seorang cendekiawan?”. Saya sendiri pada awalnya belum memahami perbedaan kedua istilah tersebut. Sampai beliau menjelaskan bahwa perbedaannya pada value. Seorang ilmuwan mengabdikan ilmunya kepada ilmu pengetahuan (devotee of knowledge), namun seorang  cendekiawan mengabdikan hidupnya kepada nilai (devotee of value). Hal yang paling menohok hati saya adalah ceritanya mengenai sejarah kemerdekaan. Dahulu, hanya dengan beberapa sarjana, Indonesia bisa mencapai kemerdekaannya. Sekarang, meskipun sudah memiliki ribuan sarjana, kejayaan Indonesia malah mundur. Menurut beliau, roh kebersamaan lah yang hilang di dalam jiwa-jiwa para pemuda Indonesia. Sesi materi kedua ini mengakhiri hari pertama PK 22.

Hari kedua: Apa yang disampaikan dari hati akan menyentuh hati
Saya sangat excited menjalani hari kedua. Sebelumnya pak Kamil mengingatkan kami bahwa belum tentu jajaran direksi bisa menghadiri sesi What, Why, and How to LPDP. Namun, ternyata kekhawatiran saya terbantahkan. Pak Eko Prasetyo, selaku direktur utama LPDP datang untuk membuka rangkaian kegiatan PK kami dan sekaligus mengisi materi mengenai What, Why, and How to LPDP dan Visi Kepemimpinan LPDP. Saya yang sedikit emosional hingga berkaca-kaca mendengar kata sambutan yang dibawakan oleh pak Eko. Ia menyampaikan bahwa bedanya program LPDP dengan program beasiswa lainnya adalah kita memiliki ikatan terhadap 250 juta rakyat Indonesia. Kita bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi karena rupiah demi rupiah yang dikumpulkan dari pajak masyarakat Indonesia. Dalam sesinya sendiri, pak Eko juga menyampaikan harapan-harapn mengenai LPDP ke depannya. Ia berharap setelah para awardee menyelesaikan pendidikannya dan kembali ke Indonesia, akan dibentuk ikatan alumni untuk saling berbagi dengan awardee-awardee baru. Pak Eko juga menyatakan bahwa para awardee yang saat pulang nanti masih belum tahu mau melanjutkan kemana, ketuklah pintu LPDP dulu. Saat ini sudah banyak perusahaan-perusahaan yang ingin menjalin kerjasama dengan LPDP. Harapannya LPDP dapat menjadi pool talent yang mengakomodir lulusan LPDP untuk bisa bekerja dengan perusahaan-perusahaan terbaik di Indonesia. Sesi pak Eko Prasetyo pun dilanjutkan dengan materi Visi Kepemimpinan LPDP. Pertanyaan yang terlontar saat itu adalah “values atau karakter seperti apa yang harus muncul dari pemimpin Indonesia?”. Pak Eko menjabarkan beberapa hal penting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, yaitu kapasitas, kompetensi, karakter, dan acceptability. Pesan pak Eko kepada kita sebagai calon pemimpin adalah menyelesaikan urusan dengan diri ktia sendiri, bebaskan dari semua kepentingan-kepentingan, baru kita bisa membangun Indonesia.
Sesi materi ketiga bertema Membangun Indonesia Melalui Gagasan Inovatif Karya Ilmiah yang disampaikan oleh Bapak Prof. Misri Gozan. Di usianya yang baru menginjak 46 tahun, ia sudah bergelar profesor di bidang bioteknologi. Di sini beliau menyampaikan betapa pentingnya riset dan paten yang harus dimiliki oleh sebuah negara. Menurut beliau, sbenarnya riset di Indonesia sudah oke, hanya saja ketika kita membandingkannya dengna riset di luar negeri, kekurangannya banyak. Pesan penting dari beliau adalah bahwa ketika kita nanti akhirnya menjalani perkuliahan, jangan mengejar ilmu untuk mengalahkan orang lain, tapi kejarlah apa yang diperlukan oleh bangsa ini 20 tahun ke depan.
Sesi materi keempat, yang merupakan sesi terakhir pada hari ini merupakan sesi paling unik. Materi yang berjudul Social Education Enterpreneurship menghadirkan bapak Zainal Abidin, atau bang Jay, sebagai pembicara. Ia membuat sesi tersebut lebih interaktif. Ia mendirikan berbagai lapangan kerja di berbagai bidang. Pesan dari beliau adalah untuk selalu menjaga trust, karena itu adalah modal utama untuk menjadi manusia. Kita juga harus berani berpikir out of the box.

Hari ketiga: inspirasi dari mereka yang menginspirasi
PK hari ketiga dimulai dengan perjalanan kami ke SMA-SMA di kawasan Depok untuk melakukan social project yang berjudul Sharing and Inspirational Class. Kelompok dr. Soetomo sendiri mendapatkan kesempatan berkunjung ke SMA terbuka MASTER Depok di kawasan terminal Depok. Dari 30 anak yang konfirmasi kehadirannya ke pihak sekolah, hanya 16 anak yang akhirnya benar-benar menunjukkan dirinya di tempat. Namun ternyata benar, kuantitas tidak menentukan kualitas. Dengan sedikitnya peserta yang hadir, keterikatan yang kami bangun dengan teman-teman dari SMA Master sangat erat. Bahkan pada saat sharing session, kami sempat meneteskan air mata karena berbagi cerita dengan teman-teman SMA. Kami yang tadinya datang untuk memberikan inspirasi, malah mendapatkan inspirasi dari teman-teman semua.
Sepulangnya dari program SIC, kami mendapatkan pengalaman luar biasa yaitu bisa berbagi dengan Dik Doang atau yang ingin disapa sebagai Om Ganteng. Penyampaian materi ala teatrikal tidak mengurangi esensi dari tema yang ia sampaikan mengenai social education enterpreneurship. Inspirasinya dibagi melalui ceritanya mengenai Kandank Jurank Doank, sebuah tempat pendidikan di alam yang dibangunnya untuk anak-anak jalanan yang belum bisa berkesempatan mengenyam pendidikan formal. Ia juga mengajari kita betapa pentingnya rasa ikhlas dan syukur atas segala nikmat dan rahmat yang telah diberikan oleh Allah SWT dan tetap istiqomah untuk memperjuangkan hal yang kita yakini baik.
Sesi terakhir hari ketiga bertema Nusantara dalam Genggaman Teknologi yang disampaikan oleh Dr. Warsito Purwotaruno. Beliau menyampaikan hasil risetnya di bidang Electromagnetic Capasitance Volume Tomography (ECVT) untuk mendeteksi kanker dalam tubuh manusia. Quotes yang sangat menginspirasi yang disampaikan dalam sesi ini adalah “to start something always important, but continuing to the end something that has been started is all needed to make all the efforts meaningful”.

Hari keempat hingga hari keenam: Kita adalah satu, satu adalah kita, untuk Indonesia
Hari keempat dan hari keenam merupakan hari-hari dimana kami sudah mulai terbiasa dengan kehidupan di PK. Pemateri yang inspiratif, teman-teman yang sangat antusias setiap sesi, dan panitia-panitia yang tidak kenal lelah mendampingi kami. Di hari keempat, kami mendapatkan kesempatan berharga untuk bisa sharing dengan bapak Arief Munandar, seorang trainer handal yang lulus studi doktoralnya dari bidang sosiologi politik dan sosiologi organisasi. Mungkin namanya sudah tidak asing lagi bagi sebagian orang. Terlalu banyak inspirasi yang saya dapatkan dari beliau yang mungkin bisa menghabiskan berlembar-lembar halaman kertas A4. Singkat kata, pak Arief menyampaikan materi bertema Menuju pemimpin Baru yang Kontributif. People, transformation, and culture merupakan 3 kata kunci utama dalam kepemimpinan, namun sebelumnya seseorang harus bisa menjawab mengapa ia harus melakukan itu. Pak arief juga menyampaikan bahwa modal dasar seorang profesional sejati adalah kemampuan membangun trust and respect. Keduanya dibangun atas kombinasi kompetensi, kontribusi, dan kredibilitas. Sesi kedua di hari keempat, disampaikan materi mengenai pembinaan kesadaran bela negara untuk mewujudkan maritim Indonesia yang berdaulat. Bapak Laksamana Muda TNI (Purn) Husein Ibrahim MBA membangkitkan rasa nasionalisme para peserta dengan cerita-ceritanya mengenai rasa nasionalisme yang dimiliki oleh orang-orang terdahulu.
PK hari kelima merupakan hari paling seru, karena kami para peserta PK dibawa ke Lembang untuk melakukan outbond dengan tema unshakeable mental race. Dari games-games kecil yang dilakukan untuk memperkuat bonding kelompok, games besar seperti flying fox, rapling, double rope, dan human jump yang memperkuat rasa kepercayaan diri kita, hingga paint ball, games yang menguji kakuatan bonding kelompok dan keyakinan diri untuk berjuang mendapatkan kemenangan. Outbond yang sudah dilalui ini keseruannya tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Satu hal yang pasti, saya bangga masuk ke kelompok dr. Soetomo. Kami pun mendapatkan predikat sebagai kelompok terbaik Outbond PK-22.
Hari keenam merupakan hari terakhir kami mendapatkan materi indoor. Sesi pertama, kami mendapatkan kesempatan untuk berbagi dengan penulis buku 99 Cahaya di Langit Eropa, Rangga Almahendra dan Hanum Rais. Mereka berbagi mengenai pengalaman hidup di luar negeri melalui materi yang berjudul Produktif dan Prestatif di Luar Negeri. Berdasarkan pengalamannya hidup di luar negeri, ia menilai Indonesia bukannya sebagai negara miskin atau negara berkembang, namun negara yang tidak ter-manage dengan baik. Karena Indonesia memiliki sumber daya yang sangat melimpah, termasuk sumber daya manusianya. Mas Rangga juga menyampaikan tips-tips untuk tinggal di luar negeri. Beliau menyatakan bahwa seseorang dikenal karena karyanya dan profesionalisme yang ia miliki, bukan karena identitas eksternalnya seperti hijab atau warna kulit. Jadi pesannya adalah tunjukkanlah performa yang terbaik dari diri kita, tidak perlu takut terhadap stigma mengenai hijab atau warna kulit atau bahkan asal negara kita. Sesi selanjutnya adalah mengenai Mekanisme Pencairan Keuangan Beasiswa Pendidikan Indonesia yang disampaikan oleh bapak Lukmanul Hakim dan Ratna Prabandarie. Sesi ini merupakan sesi yang membahasa segala tetek bengek teknis di LPDP. Para peserta pun sangat antusias dengan sesi ini. Sesi materi terakhir di PK 22 adalah Refleksi Merah Putih yang dibawakan okeh bapak Fahrizal Muhammad. Sesi ini dibawakan dengan sangat khidmat. Kami para peserta dibawa ke dalam suasana nasionalisme yang sangat kental dengan ditunjukkan betapa indahnya alam Indonesia ini namun nasib masyarakat Indonesia yang masih menyedihkan. Ia menyampaikan keadaan Indonesai dalam satu rumusan 3T: Tidurnya sarjana, tidurnya lahan, dan tidurnya dana. Kemudian kami semua dibawa untuk merefleksikan apa yang sudah dan akan kami lakukan untuk Indonesia, bahwa Indonesia membutuhkan orang-orang seperti kami. Kami diajak menyanyikan lagu Indonesia Pusaka dan berjanji di hadapan sang Merah Putih.

Hari ketujuh: Drama Musikal yang tidak akan pernah dilupakan
Hari ketujuh merupakan hari yang paling ditunggu-tunggu. Bukan karena akan berakhirnya PK ini, namun karena di sini kami diberikan kesempatan untuk menunjukkan pertunjukkan terbaik dari angkatan kami. Konsep yang dibuat oleh mbak Fitria begitu matang yang dibantu eksekusinya oleh seluruh peserta PK-22. Kami mengerahkan seluruh kekuatan kami sebagai pemain, penari, penyanyi, pemain musik, dan pekerja di belakang layar untuk memberikan pertunjukan fantastik yang telah kami siapkan selama 3 minggu. Dan ternyata, minimnya waktu persiapan tidak membuat kami lantas patah semangat, dan hal itu dibuktikan dengan terorganisirnya drama musikal ini dengan baik. Berawal dari cerita mengenai ande-ande lumut dan para klenting, kami mengenalkan budaya nusantara melalui berbagai tarian dan nyanyian daerah yang dinyanyikan secara live oleh paduan suara hebat yang kami miliki dan kemudian ditutup dengan flash mob satu angkatan dan pelepasan confetti yang waktunya sangat tepat.


Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan saya saat ini. Bertemu dengan orang-orang hebat dari berbagai profesi yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia, membuat saya menyadari bahwa Indoensia tidak perlu takut kekurangan calon pemimpin hebat di masa depan. Saya memutuskan menjadikan PK ini sebagai momentum titik balik saya dari orang yang awalnya masih berpikir untuk diri sendiri menjadi orang yang akan lebih berkontributif untuk bangsa ini. Saya bangga menjadi bagian dari kelompok 2 dr. Soetomo. Saya bangga menjadi bagian dari PK angkatan 22. Saya bangga menjadi bagian keluarga LPDP. Dan saya bangga menjadi Bangsa Indonesia.