Jika mendengar
kata HIV, semua orang pasti akan langsung tertuju pada sebuah penyakit yang
bernama AIDS. HIV atau Human
Immunodeficiency Virus merupakan virus yang dapat menyebabkan penyakit AIDS
(Acquired Immunodeficiency Syndrome). Virus ini menyerang sistem pertahanan tubuh manusia sehingga
menurunkan reaksi tubuh terhadap penyakit-penyakit. Oleh karena itu, orang yang
sudah terinfeksi virus HIV biasanya akan mudah untuk terkena penyakit karena pertahanan
tubuhnya sudah rusak.
Dialah
Françoise Barré-Sinoussi, seorang ilmuwan berkebangsaan
Perancis berusia 65 tahun, yang pada tahun 2008 lalu menerima anugerah nobel
dalam bidang kedokteran atas penemuannya terhadap sebuah virus yang bernama
HIV. Anak dari pasangan Roger Sinoussi dan Jeanine Fau, sudah memulai
penelitiannya tentang virus ini dari tahun 1983. Penemuannya berawal dari
ketertarikannya terhadap penellitian. Setelah kebingungannya terhadap masa
depan apa yang akan ia jalani, antara dunia kedokteran atau biomedis, ia
akhirnya memilih untuk memasuki Faculty of Sciences pada tahun 1966, University
of Paris. Selain karena durasi pendidikan yang relatif lebih pendek, biaya
pendidikan yang lebih murah juga menjadi pertimbangannya. Menjelang akhir pendidikannya,
ia mencari laboratorium untuk mendapatkan pengalaman. Setelah beberapa bulan
pencariannya tidak menelurkan hasil, akhirnya seorang teman mengenalkannya pada
sebuah grup yang bekerja dalam laboratorium. Grup tersebut dipimpin oleh Jean-Claude
Chermann di Institut Pasteur di Marne-la-Coquette. Saat itu Chermann sedang
mempelajari hubungan antara retrovirus dengan kanker pada tikus. Barre-Sinoussi
menghabiskan waktunya lebih banyak di laboratorium dan hanya menunjukkan
kehadiran di kampus untuk melakukan ujian. Sesaat setelah masuk ke dalam grup
Chermann, Jean-Claude menawarkannya sebuah proyek PhD. Proyeknya untuk
menganalisis kegunaan sintesis molekul yang dapat menghambat reverse
transcriptase untuk mengontrol leukemia yang disebabkan oleh Friend virus.
Barre-Sinoussi menyelesaikan pendidikannya relatif cepat. Ia dianugerahi gelar
PhD di tahun 1974 oleh Faculty of Sciences, University of Paris.

Françoise Barré-Sinoussi
Pada akhir 70-an dan awal 80-an,
hanya sedikit grup laboratorium yang masih meneliti tentang hubungan antara
retrovirus dan kanker. Pada tahun tersebut, lebih banyak orang yang tertarik
untuk meneliti onkogen atau gen yang memiliki potensi untuk mengakibatkan
kanker. Namun pada saat itu, Barre-Sinoussi tetap meneliti mengenai kontrol
alamiah infeksi retroviral pada tubuh manusia. Pada tahun 1982, Luc Montaginer,
seorang ilmuwan, dihubungi oleh seorang ahli virologi asal Prancis. Ahli
virologi tersebut bekerja sama dengan Will Rozenbaum, seorang klinisi yang
menyadari adanya epidemiologi penyakit baru yang menyerang orang-orang homoseksual.
Luc kemudian mengajak Barre-Sinoussi untuk bekerja sama meneliti fenomena baru
ini. Luc membutuhkan bantuan Barre-Sinoussi untuk menentukan apakah retrovirus
yang sedang ditelitinya dengan timnya memiliki pengaruh pada penyakit yang
baru-baru itu muncul. Setelah mendapatkan persetujuan dari ketua timnya, akhirnya
mereka bekerja dengan tekun untuk menentukan apakah retrovirus ditemukan pada
pasien dengan penyakit baru tersebut (yang kemudian dikenal dengan AIDS).
Pada bulan desember 1982,
diadakanlah pertemuan antara klinisi, grup tempat Barre-Sinoussi bekerja, dan
Willy Rozenbaum. Berdasarkan observasi klinis, penyakit ini menyerang sel imun,
namun turunnya kadar limfosit CD4 (sel pertahanan tubuh) sangat menghambat
isolasi virus dari sel-sel yang jarang pada pasien dengan AIDS. Setelah
menunggu isolasi limfosit dari biopsi kelenjar getah bening pasien, sel-sel itu
dites untuk aktivitas reverse trancriptase. Pada minggu pertama, tidak terlihat
adanya aktivitas virus, namun pada minggu kedua, terjadi penurunan level dari
enzim tersebut dan sel limfosit T mati pada kultur tersebut. Untuk
menyelamatkan kultur, dengan harapan dapat mengawetkan virus, mereka
menambahkan limfosit dari donor ke kultur. Dan ternyata sesuai harapan, virus
yang masih terdapat pada kultur, mulai menginfeksi limfosit baru yang mereka tambahkan
dan mereka dapat kembali mendeteksi aktivitas reverse transkriptase. Mereka
menamakan virus yang baru diisolasi tersebut sebagai Lymphadenopaty Associated Virus (LAV), yang kemudian dinamakan Human Immunodeficiency Virus, HIV.
Setelah itu mereka berpikir untuk memvisualisasikan virus tersebut dan dengan
bantuan mikroskop dari Charles Dauguet, gambaran awal dari virus diterbitkan
pada februari 1983.
Virus yang telah ditemukan
kemudian diisolasi, diamplifikasi (diperbanyak), dan dikarakteristikan.
Kemudian laporan pertama diterbitkan dalam Science
pada bulan Mei 1983. Pada bulan-bulan
berikutnya, penelitian mengenai virus ini diperdalam, melalui kerja sama dengan
ahli biologi molekular dari institute Pasteur, beserta klinisi-klinisi,
akhirnya data-data yang terkumpul cukup menguatkan bahwa LAV atau HIV merupakan
agen penyebab AIDS.
Tahun 1983 merupakan awal karir Barre-Sinoussi
di institut Pasteur sampai akhirnya beliau ditunjuk untuk menjadi Kepala Unit
Biologi Retrovirus pada tahun 1992, yang kemudian berubah nama menjadi Unit
Regulasi Infeksi Retroviral pada tahun 2005.
Kunjungan pertamanya adalah ke Afrika pada tahun 1987, kemudian ke
Vietnam tahun 1988 sebagai langkah awal kolaborasi dengan negara-negara di Asia.
Kunjungan tersebut membuka matanya, betapa perbedaan kebudayaan dan keadaan
yang mengerikan, menggerakannya untuk berkolaborasi dengan negara yang memiliki
sumber daya terbatas. Kerjasama dengan Afrika dan Asia ke depannya menghasilkan
pertukaran peneliti muda dari berbagai belahan dunia dengan peneliti dari
Paris.
Pada tanggal 27 Juli 2012, The International AIDS
Society (IAS) dalam International AIDS Conference (AIDS 2012) di Washington,
D.C mengumumkan Françoise Barré-Sinoussi, PhD, ditunjuk
sebagai presiden AIS yang baru selama 2 tahun.
Dalam kuliah nobelnya
tahun 2008 yang berjudul “HIV: a
discovery opening the road to novel scientific achievements and global health
improvement”, ia menyampaikan bahwa sekitar 33 juta manusia hidup dengan
HIV pada akhir tahun 2007, yang mana terdapat 2,7 juta kasus baru dan 2 juta
manusia meninggal karena AIDS pada tahun sebelumnya. Untuk setiap 1 orang yang
memulai pengobatannya dengan ARV (Anti Retroviral), terdapat 2–3 kasus infeksi
HIV baru. Hanya 30% dari pasien yang seharusnya mendapatkan pengobatan, yang benar-benar
menerimanya. Pengobatan dengan ARV memang besar dampaknya dalam peningkatan
angka pertahanan, namun hal tersebut juga dipengaruhi dengan komitmen seumur
hidup, yang berhubungan dengan ekonomi, dan komplikasi dari penyakit-penyakitnya.
Maka dari itu, penelitian terhadap HIV masih harus berlanjut untuk menemukan
terapi yang tempat pada penderita HIV. Prof Francoise Barre-Sinoussi yakin
bahwa penyembuhan dari penyakit AIDS bukan tidak mungkin.
Untuk mewujudkan
cita-cita sebuah dunia tanpa AIDS dan kesehatan global yang lebih baik, maka
diperlukan kerjasama internasional dan multidisiplin, melibatkan penelitian
dasar, penelitian klinis, kesehatan masyarakat, ilmu sosial, sektor swasta, dan
sebagainya.
Putri
Zulmiyusrini
Dokter
Internship
(tulisan ini dimuat dalam rubrik Eureka! koran Pikiran Rakyat tanggal 3 Januari 2013)